Sabtu, 15 April 2017

Fungsi Eyd Dan Kaidah Tata Tulis Baku

Fungsi Eyd Dan Kaidah Tata Tulis Baku


Muhammad Adam Setyadi
Universitas Gunadarma
Dosen : Ahmad Nasher


Fungsi Pemakaian EYD

Ejaan Yang disempurnakan ejaan yang keseluruhan system dan peraturan penulisan bunyi bahasa untuk mencapai keseragaman. merupakan ejaan bahasa Indonesia yang berlaku sejak tahun 1972. Ejaan ini menggantikan ejaan Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi.
Ejaan Yang Disempurnakan adalah ejaan yang dihasilkan dari penyempurnaan atas ejaan-ejaan sebelumnya. Sedikit bercerita tentang EYD pada zaman dahulu sebelum adanya EYD (Ejaan yang Disempurnakan) masyarakat Indonesia menggunakan cara penulisan yang lain daripada yang kita gunakan pada saat ini. Itulah sebabnya kita merasa aneh ketika kita membaca tulisan-tulisan jadul (jaman dulu) ketika zaman pra kemerdekaan dan juga zaman awal kemerdekaan negara kita Republik Indonesia. Itulah yang disebut dengan ejaan Van Ophuijsen yang berlaku kurang lebih dari tahun 1901 sampai dengan tahun 1947, Setelah tahun 1972 negara kita menggunakan standar Ejaan yang Disempurnakan (EYD).



EYD mempunyai fungsi yang cukup penting. antara lain, berfungsi sebagai :
1.Pemersatu, pemakaian EYD dapat mempersatukan sekelompok orang menjadi satu kesatuan masyarakat bahasa.

2.Pemberi kekhasan, pemakaian EYD dapat menjadi pembeda dengan masyarakat pemakai bahasa lainnya.

3.Pembawa kewibawaan, pemakaian EYD dapat memperlihatkan kewibawaan pemakainya.

4. kerangka acuan, EYD menjadi tolok ukur bagi benar tidaknya pemakaian bahasa seseorang atau sekelompok orang.

5. Alat penyaring masuknya unsur-unsur bahasa lain ke dalam bahasa Indonesia.

Di samping kelima fungsi yang telah disebutkan, EYD sebenarnya juga mempunyai fungsi yang lain. Secara praktis, EYD berfungsi untuk membantu pemahaman pembaca di dalam mencerna informasi yang disampaikan secara tertulis. Dalam hal ini fungsi praktis itu dapat dicapai jika segala ketentuan yang terdapat di dalam kaidah telah diterapkan dengan baik



KAIDAH TATA TULIS
Kaidah bahasa merupakan aturan pemakaian bahasa agar bahasa itu tetap terpelihara dalam perkembangannya.
 Dalam berbahasa, kita harus mengikuti kaidah sehingga bahasa kita menjadi terpelihara dengan baik, sesuai dengan kaidah yang berlaku.
 Kaidah bahasa merupakan suatu himpunan beberapa patokan umum berdasarkan struktur bahasa.

KAIDAH TATA TULIS

PEMAKAIAN HURUF
PENULISAN HURUF
PENULISAN KATA
PUNGTUASI  (TANDA BACA)

PEMAKAIAN HURUF

  • Abjad

Abjad yang digunakan dalam ejaan bahasa Indonesia terdiri atas huruf A sampai huruf Z.
  • Huruf Vokal

Huruf yang melambangkan vokal dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf a, e, i, o, dan u.
  • Huruf Konsonan

Huruf yang melambangkan konsonan dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf-huruf b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, o, r, s, t, v, w, r. y. dan z.
  • Huruf Diftong

Di dalam Bahasa Indonesia terdapat diftong yang dilambangkan dengan ai, au, dan oi.
  • Gabungan Huruf Konsonan
Di dalam bahasa Indonesia terdapat empat gabungan huruf yang melambangkan satu konsonan, yaitu kh, ng, ny, dan sy. Penulisannya tidak pernah diceraikan sehingga pemisahan suku katanya dilakukan sebelum atau sedudah pasangan huruf rtersdebut, misalnya sa-ngat, nya-nyi,

Pemenggalan kata

1. Pemenggalan kata pada kata dasar dilakukan sebagai berikut.

a. Jika di tengah kata ada vokal yang berurutan, pemenggalan itu dilakukan antara kedua huruf vokal itu. Contoh: ma-in, sa-at, bu-ah.


b. Jika di tengah kata ada huruf konsonan , termasuk gabungan huruf konsonan, di antara dua buah huruf vokal, pemenggalan dilakukan sebelum huruf konsonan. Contoh: a-nak, ba-rang, su-lit.

c.Jika di tengah kata ada dua huruf konsonan yang berurutan, pemenggalan dilakukan diantara kedua huruf konsonan itu. gabungan huruf konsonan tidak pernah diceraikan. Contoh: man-di, som-bong, swas-ta, cap-lok, ap-ril

d. Jika di tengah ada tiga buah huruf konsonan atau lebih, pemenggalan dilakukan diantara huruf konsonan yang pertama dan huruf konsonan yang kedua. Contoh:
in-stru-men, ul-tra, bang-krut, ben-trok.

2.Imbuhan akhiran dan imbuhan awalan, termasuk awalan yang mengalami perubahan bentuk serta partikel yang biasanya ditulis serangkaian dengan kata dasarnya, dapat dipenggal pada pergantian baris. Contoh: makan-an, me-rasa-kan, mem-bantu, pergi-lah

3.Jika suatu kata terdiri atas lebih dari satu unsur dan salah satunya itu dapat bergabung dengan unsur lain, pemenggalan dapat dilakukan (1) di antara unsur-unsur itu atau (2) pada unsur gabungan itu sesuai dengan kaidah di atas. Contoh: bio-grafi, bi-o-gra-fi, foto-grafi, fo-to-gra-fi, intro-speksi, in-tro-spek-si, kilo-gram, ki-lo-gram, kilo-meter, ki-lo-me-ter, pasca-panen, pas-ca-pa-nen


PEMAKAIAN HURUF KAPITAL DAN HURUF 
MIRING

 A.Huruf Kapital atau Huruf Besar

  •  Huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat dan nama orang. Contoh: Dia mengantuk.
  •  Huruf kapital dipakia sebagai huruf pertama petikan langsung. Contoh: Adik bertanya, “Kapan kita pulang?Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan kitab suci, termasuk kata ganti untuk Tuhan. Contoh: Allah, Islam, Alkitab, Yang Maha Pengasih, hamba-Nya.
  •  Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan. keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang. Contoh: Sultan Hasanuddin, Haji Agus Salim, Nabi Ibrahim, Imam Hambali
  •  Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat. Contoh: Perdana Menteri Nehru, Profesor Supomo, Laksamana Muda Udara Husein Sastranegara.
  • Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa. Misalnya: bangsa Indonesia, suku Sunda, bahasa Indonesia. Bentuk dasar kata turunan yanng menggunakan nama bangsa ditulis dengan huruf kecil
  • Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah. Misalnya: tahun Hijriah, bulan Desember, hari Kamis, hari Galungan, hari Lebaran, Peranjg Diponegoro, Proklamasi Kemerdekaan.
  • Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama khas dalam geografi. Misalnya: Asia Tenggara, Bukit Barisan, Jalan Mataram, Kali Brantas, Selat Sunda, Teluk Benggala, Tanjung Harapan. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama geografi yang tidak menjadi unsur diri dan nama geografi yang digunakan sebagai nama jenis misalnya, berlayar ke teluk, menyeberanngi selat, garam inggris, gula jawa
  • Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama resmi badan, lembaga, pemerintahan dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi. Misalnya: Departemen Perhubungan, Republik Indonesia, Majelis Permusyawaratan Rakyat, Undang-Undang Dasar Republik Indonesia
  • Huruf kapital dipakai dalam singkatan nama gelar dan sapaan. Misalnya: Dr (Doktor), M.A. (Master of Arts), Prof., S.E., S.H., Ny., Tn., M.Pd.
  • Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan seprrti bapak, ibu, saudara, kakak, adik, dan paman yang dipakai sebagai kata ganti atau sapaan. Misalnya: Kapan Ibu berangkat?, Surat Saudara sudah saya terima.
  • Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata di dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan, kecuali kata seperti: di, ke, dari, dan, yang, dan untuk yang tidak terletak pada posisi awal. Misalnya: Saya sudah membaca surat kabat Pikiran RakyaT

          Ia menyelesaikan makalah “Asas-Asas Hukum Perdata”

B. Huruf Miring

  • Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan. Contoh: majalah

  • Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata atau kelompok kata. Contoh:

  • Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata nama ilmiah atau ungkapan asing kecuali yang telah disesuaikan ejaannya.


        Bahasa dan Kesusastraan, buku Negarakertagama karangan Prapanca, surat kabar              Suara Karya.


  •  Huruf pertama kata abad ialah a, Dia bukan menipu tetapi ditipu.


          Contoh: Nama ilmiah buah manggis ialah Carcinia Mangostana. Politik devide et                   impera pernah meraja lela di negeri ini. Weltanschaaung antara lain diterjemahkan                 menjadi „pandangan dunia‟. Tetapi: Negara itu telah mengalami empat kali kudeta.

PENULISAN KATA

A. Kata Dasar 


Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan. Contoh: Buku itu sangat tebal.

 B.Kata Turunan


Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasarnya. Contoh: dikelola, bergeletar, menengok, mempermainkan



Jika bentuk dasar berupa gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya. Contoh : bertepuk tangan, garis bawahi, menganak sungai, sebar luaskan.



Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai.



Contoh: menggarisbawahi, menyebarluaskan.


Jika salah satu ubsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai.

C. Bentuk Ulang


Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung.



Contoh: anak-anak, biri-biri, lauk-pauk, gerak-gerik, dibesar-besarkan

D. Gabungan Kata


Gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus, unsur-unsurnya ditulis terpisah. Contoh: duta besar, orang tua, mata pelajaran, kambing hitam, meja tulis.



Gabungan kata termasuk istilah khusus yang mungkin meninbulkan kesalahan pengertian, dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian di antara unsur yang bersangkutan. Contoh: alat pandang-dengar, ibu-bapak kami, anak-istri saya.




Gabungan kata yang sudah dianggap satu kata ditulis serangkai misalnya, bagaimana, apabila, barangkali, matahari, bilamana, daripada, kepada, padahal, sekaligus

E. Kata Ganti -ku, kau-,-mu, dan –nya


Kata ganti ku-,dan kau- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya ; -ku, -mu, dan -nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya. Contoh: Apa yang kumiliki boleh kauambil. Bukuku, bukumu, bukunya tersimpan di perpustakaan.

F. Kata Depan di, ke, dan dari

Kata depan di, ke,dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata seperti kepada dan daripada. Contoh: Di mana Siti sekarang? Mari kita beranngkat ke pasar. Ia datang dari Surabaya kemarin.

G.Kata si dan sang

Kata si dan sang dituklis terpisah dari kata yang mengikutinya. Contoh: Harimau itu marah sekali kepada sang Kancil. Surat itu dikirim kepada si pengirim

H.Partikel
 

Partikel -lah, -kah, dan -tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya. Misalnya: Bacalah buku itu baik-baik!, Siapatah gerangan dia?, Apatah gunanya bersedih hati?, Apakah yang tersirat dalam surat itu?



Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya. Kelompok kata yang lazim dianggap padu ditulis serangkai, misalnya apapun, bagaimanapun, ataupun, walaupun, maupun, meskipun, kendatipun, biarpun.



Pertikel per yang berarti 'mulai', 'demi', dan 'tiap' ditulis terpisah



dari bagian kalimat yang mendahuluinya atau mengikutinya. Misalnya: Pegawai negeri sipil mendapat kenaikan gaji per 1 April.



I.SINGKATAN
 
Singkatan ialah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih.

Singkatan nama orang, gelar, sapaan, jabatan diikuti dengan tanda titik. Misalnya: Muh.Yamin,A.S. Kusumawijaya, M.Sc., M.B.A.,
 S.E., S.H., Sdr., Kol., Prof.

Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, dan dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulis dengan huruf kapital dan tidak diikuti tanda titik. Misalnya: DPR (Dewan Perwakilan Rakyat)

Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik. Misalnya: dll., dsb., dst., hlm., sda., Yth., tetapi a.n., d.a., u.b., u.p.


AKRONIM
Akronim ialah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata yang diperlakukan sebagai kata.



Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf kapital.



Contoh:ABRI(AngkatanBersenjata Republik Indonesia),LAN(Lembaga Administrasi Negara)



Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf kapital.



Contoh: Iwapi (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia), Sespa (Sekolah Staf Pimpinan Administrasi).



Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata seluruhnya ditulis dengan huruf kecil.


Contoh: pemilu (pemilihan umum), rudal (peluru kendali), tilang (bukti pelanggaran)

PEMAKAIAN TANDA BACA

A. Tanda Titik

Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.

Tnda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar.

Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjujkan waktu.

Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan jangka waktu.

B. Tanda Koma (,)

 Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan.

Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului olah kata seperti tetapi atau melainkan.

a. Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat itu mendahului induk kalimatnya.

b. Tanda koma tidak dipkai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mengiringi induk kalimatnya.

C. Tanda Titik Koma (;)

Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara.

Tanda titik koma dapat dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam kalimat majemuk.

D. Tanda Titik Dua (:)

a. Tanda titik dua dapat dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap jika diikuti rangkaian atau pemerian.

b. Tanda titik dua tidak dipakai jika rangkaian atau pemerian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan.

Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.

Tanda titik dua dapat dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.

E. Tanda Hubung (-)

Tanda hubung menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh pergantian baris

Tanda hubung menyambung awalan dengan bagian kata di belakangnya atau akhiran dengan bagian kata di depannya pada pergantian baris.
Tanda hubung menyambung unsur-unsur kata ulang

Tanda hubung menyambung huruf kata yang dieja satu-satu dan bagian-bagian tanggal

F. Tanda Pisah (_)

Tanda pisah membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan di luar bangun kalimat.

Tanda pisah menegaskan adanya keterangan aposisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih jelas.

Tanda pisah dipakai di antara dua bilangan, tanggal, atau tempat dengan arti

„sampai‟

G. Tanda Elipsisis (...)

Tanda elipsis dipakai dalam kalimat yang terputus-putus

Tanda elipsis menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau naskah ada bagian yang dihilangkan.

H. Tanda Tanya (?)
  
Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya.

Tanda tanya dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau yang kuranag dapat dibuktikan kebenarannya.

I. Tanda Seru (!)

Tanda seru dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya.

 J.Tanda Kurung ((...))

Tanda kurung mengapit tambahan keterangan atau penjelasan

Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral pokok pembicaraan

Tanda kurung mengapit huruf atau kata yang kehadirannya di dalam teks dapat dihilangkan

K. Tanda Kurung Siku ([...])
  
Tanda kurung siku mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat atau bagian kaliamatyang ditulis orang lain.

Tanda kurung siku mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda kurung.

L. Tanda Petik (“...”)

Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lain.

Tanda petik mengapit judul syair, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat.

Tanda petik mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus.

M. Tanda Petik Tunggal („..‟)

Tanda petik tunggal mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain.

Tanda petik tunggal mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata ungkapan asing.

N. Tanda Garis Miring

Tanda garis miring dipakai dalam nomor surat dan nomor pada kalimat dan penanda masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim.

Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata dan, atau tiap.

O. Tanda Penyingkat atau Apostrof („)

Tanda penyingkat atau apostrof menunjukkan penghilangakn bagian kata atau bagian angka tahun.
peristiwa masa silam tidak mungkin berulang lagi benarkah pandangan itu secara sekilas pandangan itu dapat kita terima namun pola kejadiannya mungkin saja tampil pada masa kini atau pada masa yang akan datang agaknya itulah yang menyebabkan timbulnya ungkapan kita perlu belajar pada sejarah karena peristiwa pada masa lampau dapat memberikan hikmah pada kehidupan masa kini atau pada masa hari esok karya sastra yang bermuatan kisah masa silam bukanlah rekaman fakta sejarah yang sesungguhnya melainkan hasil rekaan sekalipun demikian karya itu juga bukan sepenuhnya buah imajinasi pengarangnya nilai kepahlawanan atau semangat perjuangan misalnya dapat kita simak dalam novel mutiara nur sutan iskandar 1946 pagar kawat berduri trisnoyuwono 1963 Surapati abdul muis 1965 dan robert anak surapati abdul muis 1987 dalam mutiara nur sultan iskandar berkisah tentang prilaku penjajah di tanah aceh kendati ia tidak terlibat langsung dalam peristiwa itu mata batinnya mampu menjangkau dan menjadi saksi sejarah

membaca termasuk salah satu tuntutan dalam kehidupan masyarakat modern dengan membaca kita dapat mengetahui dan menguasai berbagai hal banyak orang membaca kata demi kata bahkan mengucapkannya secara cermat dengan maksud dapat memahami isi bacaannya membaca kata demi kata memang bermanfaat tetapi tidak cocok untuk semua tujuan kecepatan membaca berbeda bagi setiap orang bergantung pada jenjang usianya menurut penelitian pakar kecepatan membaca bagi orang dewasa antara 900 1000 kata permenit bagi siswa sekolah dasar kelas 1 60-80 kata kelas 2 90 110 kata kelas 3 120 140 kata kelas 4 150 160 kata kelas 5 170 180 kata kelas 6 190 250 kata permenit kecepatan itu berlaku bagi kegiatan membaca dalam hati yang tentu saja tidak sama kecepatannya dengan membaca nyaring sebagaimana dikatakan kecepatan membaca erat kaitannya dengan tujuan membaca karena itu perlu dipahami teknik membaca cepat membaca sepintas dan membaca cermat membaca cepat biasanya dilakukan untuk menemukan sesuatu atau memperoleh kesan umum dari suatu bacaan kalau pembaca ingin memahami misalnya isi bagian-bagian buku ia cukup memperhatikan judul atau bagian atasnya saja membaca sepintas dipergunakan apabila seseorang ingin secara cepat menemukan misalnya tanggal nama nomor telepon tempat pertemuan indeks atau jumlah halaman buku orang yang sudah terbiasa membaca sepintas ia akan dapat secara cepat menemukan gagasan yang tertuang dalam buku yang dibacanya membaca cermat dilakukan orang untuk memperoleh pemahaman sepenuhnya terhadap isi bacaan atau buku yang dibacanya dengan membaca cermat seseorang akan dapat mengingat dan memahami ide pengarang karakter tokoh dalam bacaan fiksi konsep-konsep khusus hubungan antar bagian atau gaya penulisan


Kesimpulan :
Ejaan adalah seperangkat aturan tentang cara menuliskan bahasa dengan menggunakan huruf, kata, dan tanda baca sebagai sarananya.
EYD (Ejaan yang Disempurnakan) merupakan tata bahasa dalam Bahasa Indonesia yang mengatur penggunaan bahasa Indonesia dalam tulisan, mulai dari pemakaian dan penulisan huruf capital dan huruf miring, serta penulisan unsur serapan. Salah dalam menggunakan tanda baca akan menyebabkan kesalahan yang sangat fatal yang tanpa disadari kalaupun sebelumnya belum mengetahui hal tersebut. Sarana belajar dan giat berlatih merupakan jalan keluar dari masalah yang terkadang timbul akibat salah dalam penulisan tanda baca. Tanda baca dalam penggunaannya dapat dilihat pada bahasan di atas, bukan soal tahu saja tapi harus dipahami lebih dalam tentang permasalahan yang seri muncul (salah penggunaan tanda baca) dalam karya tulis ilmiah.


Sumber: http://file.upi.edu/Direktori/FPBS/JUR._PEND._BHS._DAN_SASTRA_INDONESIA/196711031993032-NOVI_RESMINI/KAIDAH-KAIDAH_TATA_TULIS.pdf
http://little-chiyoo.blogspot.co.id/2013/06/fungsi-pemakaian-eyd.html
https://sofyanm215.wordpress.com/2015/10/12/ejaan-yang-disempurnakan-beserta-fungsi-dan-tanda-baca




Minggu, 09 April 2017

Penulisan Ilmiah " Jenis dan Ciri cirinya

Penulisan Iimiah Jenis Dan Ciri cirinya

Muhammad Adam Setyadi
Universitas Gunadarma
Dosen : Ahmad Nasher



1.Pengertian Penulisan Ilmiah
Penulisan Ilmiah adalah karya tulis yang disusun oleh seorang penulis berdasarkan hasil-hasil penelitian ilmiah yang telah dilakukannya. Dari definisi yang lain dikatakan bahwa karya ilmiah (scientific paper) adalah laporan tertulis dan dipublikasi yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan.
Dari pengertian tersebut secara awal kita dapat mengenal salah satu ciri khas karya ilmiah adalah lewat bentuknya yakni tertulis, baik di buku, jurnal, majalah, surat kabar, maupun yang tersebar di internet, di samping ciri lain yang mesti dipenuhi dalam sebuah karya ilmiah.

1.Macam Karya Tulis Ilmiah
 Sesuai dengan cirinya yang tertulis tadi, maka karya tulis ilmiah dapat berwujud dalam bentuk makalah (dalam seminar atau simposium), artikel, laporan praktikum, skripsi, tesis, dan disertasi, yang pada dasarnya kesemuanya itu merupakan produk dari kegiatan ilmuwan. Data, simpulan, dan informasi lain yang terkandung dalam karya ilmiah tersebut dijadikan acuan (referensi) bagi ilmuwan lain dalam melaksanakan penelitian atau pengkajian selanjutnya.

MAKALAH
Makalah, adalah karya ilmiah yang membahas suatu pokok persoalan, sebagai hasil penelitian atau sebagai hasil kajian yang disampaikan dalam suatu pertemuan ilmiah (seminar) atau yang berkenaan dengan tugas-tugas perkuliahan yang diberikan oleh dosen yang harus diselesaikan secara tertulis oleh mahasiswa.

SKRIPSI
Skripsi, adalah karya ilmiah yang ditulis berdasarkan hasil penelitian lapangan atau kajian pustaka dan dipertahankan di depan sidang ujian (munaqasyah) dalam rangka penyelesaian studi tingkat Strata Satu (S1) untuk memperoleh gelar Sarjana.

TESIS
Tesis, adalah karya ilmiah yang ditulis dalam rangka penyelesaian studi pada tingkat program Strata Dua (S2), yang diajukan untuk dinilai oleh tim penguji guna memperoleh gelar Magister. Pembahasan dalam tesis mencoba mengungkapkan persoalan ilmiah tertentu dan memecahkannya secara analisis kristis.

DISERTASI
Disertasi, adalah karya ilmiah yang ditulis dalam rangka penyelesaian studi pada tingkat Strata Tiga (S3) yang dipertahankan di depan sidang ujian promosi untuk memperoleh gelar Doktor (Dr.). Pembahasan dalam disertasi harus analitis kritis, dan merupakan upaya pendalaman dan pengembangan ilmu pengetahuan yang ditekuni oleh mahasiswa yang bersangkutan, dengan menggunakan pendekatan multidisipliner yang dapat memberikan suatu kesimpulan yang berimplikasi filosofis dan mencakup beberapa bidang ilmiah.

ARTIKEL
Artikel, merupakan karya tulis lengkap, seperti laporan berita atau esai di majalah, surat kabar, dan sebagainya (KBBI 2002: 66).  Artikel adalah sebuah karangan prosa yang dimuat dalam media massa, yang membahas isu tertentu, persoalan, atau kasus yang berkembang dalam masyarakat secara lugas (Tartono 2005: 84).
Artikel merupakan: karya tulis atau karangan; karangan nonfiksi; karangan yang tak tentu panjangnya; karangan yang bertujuan untuk meyakinkan, mendidik, atau menghibur; sarana penyampaiannya adalah surat kabar, majalah, dan sebagainya; wujud karangan berupa berita atau “karkhas” (Pranata 2002: 120).
Artikel mempunyai dua arti: (1) barang, benda, pasal dalam undang- undang dasar atau anggaran dasar; (2) karangan, tulisan yang ada dalam surat kabar, majalah, dan sebagainya. Tetapi, kita akan lebih jelas lagi dengan penguraian Webster`s Dictionary yang mengartikan bahwa artikel adalah a literary compositon in a journal (suatu komposisi atau susunan tulisan dalam sebuah jurnal atau penerbitan atau media massa). Sejak tahun 1980 para jurnalis Amerika sepakat untuk memakai istilah artikel bagi tulisan yang berisi pendapat, sikap, atau pendirian subjektif mengenai masalah yang sedang dibahas disertai dengan alasan dan bukti yang mendukung pendapatnya.

ESAI
Esai, adalah ekspresi tertulis dari opini penulisnya. Sebuah esai akan makin baik jika penulisnya dapat menggabungkan fakta dengan imajinasi, pengetahuan dengan perasaan, tanpa mengedepankan salah satunya. Tujuannya selalu sama, yaitu mengekspresikan opini, dengan kata lain semuanya akan menunjukkan sebuah opini pribadi (opini penulis) sebagai analisa akhir. Perbedaannya dengan tulisan yang lain, sebuah esai tidak hanya sekadar menunjukkan fakta atau menceritakan sebuah pengalaman; ia menyelipkan opini penulis di antara fakta-fakta dan pengalaman tersebut. Jadi intinya kita harus memiliki sebuah opini sebelum menulis esai.

OPINI
Opini, adalah sebuah kepercayaan yang bukan berdasarkan pada keyakinan yang mutlak atau pengetahuan sahih, namun pada sesuatu yang nampaknya benar, valid atau mungkin yang ada dalam pikiran seseorang; apa yang dipikirkan seseorang; penilaian.

FIKSI
Fiksi, satu ciri yang pasti ada dalam tulisan fiksi adalah isinya yang berupa kisah rekaan. Kisah rekaan itu dalam praktik penulisannya juga tidak boleh dibuat sembarangan, unsur-unsur seperti penokohan, plot, konflik, klimaks, setting dsb adalah hal-hal penting yang memerlukan perhatian tersendiri. Meski demikian, dengan kisah (bisa juga data) yang asalnya dari imajinasi pengarang tersebut, tulisan fiksi memungkinkan kebebasan bagi seorang pengarang untuk membangun sebuah ‘kebenaran’ yang bisa digunakan untuk menyampaikan pesan yang ingin ia sampaikan kepada pembacanya. Sementara itu, kebebasan yang dimiliki pengarang fiksi tadi di lain pihak juga memungkinkan adanya kebebasan bagi pembaca untuk menginterpretasikan makna yang terkandung dalam tulisan tersebut. Artinya, fiksi sangat memungkinkan adanya multi interpretasi makna. Para pendukung tulisan fiksi meliputi: novelis, cerpenis, dramawan dan kadang penyair pun sering dimasukkan ke dalam golongan ini.

Di Perguruan Tinggi, khususnya jenjang S1, mahasiswa dilatih untuk menghasilkan karya ilmiah, seperti makalah, laporan praktikum, dan skrispsi (tugas akhir). Yang disebut terakhir umumnya merupakan laporan penelitian berskala kecil tetapi dilakukan cukup mendalam. Sementara itu makalah yang ditugaskan kepada mahasiswa lebih merupakan simpulan dan pemikiran ilmiah mahasiswa berdasarkan penelaahan terhadap karya-karya ilmiah yang ditulis pakar-pakar dalam bidang persoalan yang dipelajari.

Tujuan Dan Kegunaan
Pada hakikatnya penulisan karya ilmiah pada mahasiswa bertujuan:
  • Sebagai wahana melatih mengungkapkan pemikiran atau hasil penelitiannya dalam bentuk tulisan ilmiah yang sistematis dan metodologis.
  • Menumbuhkan etos ilmiah di kalangan mahasiswa, sehingga tidak hanya menjadi konsumen ilmu pengetahuan, tetapi juga mampu menjadi penghasil (produsen) pemikiran dan karya tulis dalam bidang ilmu pengetahuan, terutama setelah penyelesaian studinya.
  • Karya ilmiah yang telah ditulis itu diharapkan menjadi wahana transformasi pengetahuan antara STAIN dengan masyarakat, atau orang-orang yang berminat membacanya.
  • Membuktikan potensi dan wawasan ilmiah yang dimiliki mahasiswa dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah dalam bentuk karya ilmiah setelah yang bersangkutan memperoleh pengetahuan dan pendidikan dari jurusannya.
    1.Kesalahan Yang Sering Terjadi
Sebetulnya mahasiswa terlebih para sarjana memiliki modal kemampuan menulis.Hanya saja kemampuan tersebut haruslah senantiasa diasah agar tidak tumpul.Seorang mahasiswa serta sarjana yang memiliki kemampuan menulis akan lebih sukses daripada yang tidak memiliki kemampuan tersebut.

   Beberapa bentuk kesalahan yang sering dijumpai dalam tulisan antara lain:

  •  Salah mengerti audience atau pembaca tulisannya.
  • Salah dalam menyusun struktur pelaporan.
  • Salah dalam cara mengutip pendapat orang lain sehingga berkesan menjiplak (plagiat).
  • Salah dalam menuliskan bagian Kesimpulan, penggunaan Bahasa Indonesia (akan dibahas secara khusus) yang belum baik dan benar.
  • Tata cara penulisan “Daftar Pustaka” yang kurang tepat (tidak standar dan berkesan seenaknya sendiri).
  • Tidak konsisten dalam format tampilan (font yang berubah-ubah, margin yang berubah-ubah).
  • Isi yang terlalu singkat karena dibuat dengan menggunakan point-form seperti materi presentasi.
  • Isi justru terlalu panjang dengan pengantar introduction yang berlebihan.

Ciri-ciri sebuah karya ilmiah dapat dikaji dari minimal empat aspek, yaitu struktur sajian, komponen dan substansi, sikap penulis, serta penggunaan bahasa. Struktur sajian karya ilmiah sangat ketat, biasanya terdiri dari bagian awal (pendahuluan), bagian inti (pokok pembahasan), dan bagian penutup. Bagian awal merupakan pengantar ke bagian inti, sedangkan inti merupakan sajian gagasan pokok yang ingin disampaikan yang dapat terdiri dari beberapa bab atau subtopik. Bagian penutup merupakan simpulan pokok pembahasan serta rekomendasi penulis tentang tindak lanjut gagasan tersebut.
  Komponen karya ilmiah bervariasi sesuai dengan jenisnya, namun semua karya ilmiah mengandung pendahuluan, bagian inti, penutup, dan daftar pustaka. Artikel ilmiah yang dimuat dalam jurnal mempersyaratkan adanya abstrak. Sikap penulis dalam karya ilmiah adalah objektif, yang disampaikan dengan menggunakan gaya bahasa impersonal, dengan banyak menggunakan bentuk pasif, tanpa menggunakan kata ganti orang pertama atau kedua. Bahasa yang digunakan dalam karya ilmiah adalah bahasa baku yang tercermin dari pilihan kata/istilah, dan kalimat-kalimat yang efektif dengan struktur yang baku.


 Kesimpulan:
Secara keseluruhan cara penulisan karya ilmiah yang baik sudah ditentukan, yaitu sesuai dengan tata bahasa (EYD) dan tata tulis yang disepakati oleh masyarakat akademik. Adapun yang masuk kedalam penelitian meliputi masalah penelitian, tujuan, metode, kajian teori, objek data variabel dan hasil penelitian.dan cara – cara penulisan ilmiah yang baik adalah: Objektif,Pola berfikir deduktif – induktif,Sistematika,danTata cara penulisan karya ilmiah mencakup : penulisan kutipan, catatan kaki, dan daftar pustaka. Adapun bentuk bentuk karya ilmiah meliputi : Karya tulis ,Makalah,Skripsi,Tesis,Disertasi,Opini,Esay


Sumber : https://aryonelmessi.wordpress.com/2011/02/24/penulisan-ilmiah-2/

Mengenal Macam-Macam Teknik Pengambilan Gambar Video

MENGENAL MACAM-MACAM TEKNIK PENGAMBILAN GAMBAR VIDEO


CAMERA ANGGLE
Kita bahas yang pertama yaitu Camera Anggle :
Camera angle adalah pengambilan gambar dari sudut tertentu agar lebih dramatis dan mudah tersampaikan isi adegan dari film tersebut, ada macam macam camera angle yang biasanya sering digunakan  :

1.Bied Eye View
Pengambilan gambar yang dilakukan dari atas ketinggian tertentu sehingga memperlihatkan lingkungan yang sedemikian luas dengan benda benda yang terlihat kecil, penggambilan gambar dengan cara ini biasanya menggunakan halikopter maupun menaiki gedung gedung tinggi atau yang biasanya sekarang menggunakan drome, biasanya tekhnik pengambilan gambar seperti ini ada di into film Hooliword.

2.High Anggle
Tekhnik pengambilan gambarnya dengan sudut pengambilan gambar tepat di atas subjek pengambilan gambar yang seperti ini memiliki arti yang dramatic yaitu kecil, kerdil, dan lemah seperti orang yang tidak memiliki kekuatan atau tak berdaya biasanya teknik pengambilan seperti ini untuk adegan seorang yang sedang menyesal karna melakukan kesalahan patah hati dan tak berdaya.

3. Low Anggle
Pengambilan gambar dari sudut tertentu sudut pengambilan gambar ini kebalikan dari high angle, kesan yang ditibulkan yaitu keunggulan atau kejayaan, biasanya teknik seperti ini sering digunakan untuk sebuah karakter orang yang telah mencapai kesuksesan, keberhasilan merupakan sebuah kebanggaan dalam hidupnya.

4.Eye Level
Pengambilan gambar ini sudut pandang sejajar dengan subjek tidak ada pesan dramatic tertentu yang di dapat dari eye level ini, yang ada hanya memperlihatkan pandangan mata seseorang yang berdiri.

5.Frog Eye
Sudut pengambilan gambar yang hamper sama dengan low angle, akan tetapi frog eye tingkat kerendahanya lebih exstrim dimana kamera hamper menyentuh tanah sehingga cameramen mengambil bambar pada anggl ini harus posisi tiarap kecuali menggunakan alat yang mendukung.

CAMERA FRAMING

Dalam sebuah film sangat mempertimbangkan beberapa aspek yang berpengaruh pada emosi dan motivasi yang di tunjuk oleh seorang sutradara atau pembuat film jadi kamera framing ini mengatur luas pandangan.

Ada beberapa pengambilan gambar dalam framing :

1.Extreme Close Up
Pengambilan gambar sangat dekat sekali hanya menampilkan bagian tertentu pada tubuh subjek contohnya untuk menunjukkan mata seseorang, fungsinya untuk kedetailan suatu subjek.

2.Big Close Up
Pengambilan gambar hanya sebatas kepala hingga dagu subjek, fungsinya untuk menonjolkan sespresi yang dikeluatkan oleh subjek, misalkan ekspresi wajah marah sedih dan lucu.

3.Close Up
Pengambilan gamabar hanya dari ujung kepala sampai ujung leher, fungsinya hanya member gambaran luas tentang subjek framing ini lebih luas dari big close up.

4.Medium Close Up
Pengambilan gambar dari ujung kepala hingga dada, fungsinya untuk mempertegas profil seseorang hingga penonton jelas.

5.Mid Shot
Pengmbilan gambar hanya sebatas kepala hingga pinggang fungsinya untuk memerlihatkan sosok sunjek secara jelas, jarak pandang mid shot ini lebih luas dari medium close up.

6.Kneel Shot
Pengambilan gambar dari kepala hingga lutut fungsinya hamper sama dengan mid shot, namun jarak pandang lebih luas daripada mid short.

7.Full Shot
Pengambilan gambar dari atas kepala hingga ujung kaki, fungsinya memperlihatkan subjek secara utuh serta lingkungan sekitaranya.

8.Long Shot
Pengambilan gambar pada gambar ini lebih luas dari full shot fungsinya untuk subjek pada latar belakangnya.

9.Extreme Long Shot
Pengambilan gambarnya melebihi long shot menampilkan lingkungan sisubjek secara utuh dan jauh fungsinya untuk menunjukan sisubjek bagian dari lingkungannya.

CAMERA MOVEMENT
Kenapa kamera harus di gerakan ternyata selain membangun suasana yang lebih dramatis, penggunaan gerakan kamera yang lebih tepat akan membangun visual yang lebih dramatis dan dapat mengalihkan perhatian penonton, jadi mengerakan kamera dapat lehih mem bantu mengungkapkan secara visual dan ekspresip, apa saja kamera movement tersebut :

1.ZOOMING – Zoom Out dan Zoom In
Zoom out kamera yaitu pergerakan lensa menjauhi subjek dan zoom in yanitu pergerakan lensa mendekati subjek,  zooming ini termasuk kategori kamera movement meskipun kamernya tidak bergerak  yang bergerak adalah lensa, zoom in bisanya teknik ini digunakan oleh sutradara ketika sang actor berbicara serius dangan lawan mainya dan mata actor menuju ke kamera jadi seolah olah kamera itu lawan maenya.

2.Panning Left & Right
Panning left pergerakan kamera ke kiri.
Panning Right pergerakan kamera ke kanan.
Yang dimaksud dengan panning yaitu : kamera bergerak seperti leher kita pada saat menggeleng kekiri dan kekanan biasanya ini menggunakan triport, dan iasanya teknik ini di gunakan untuk mengalihkan penonton dari frame 1 ke frame yang lain.

3.Tilt Up & Down
Tilt Up pergerakan kamera ke atas.
Tilt down pergerakan kamera ke bawah.
Teknik ini mengunakan triport, biasanya digunakan untuk pengambilan gambar ketika sedang menaik dan turun.

4.Dolly in & Out
Dolly in pergerakan kamera mendekati subjek
Dolly out pergerakan kamera menjauhi subjek
Dolly ini sama dengan zooming tetapi berbeda zooming hanya pergerakan lensanya saja teapi berbeda dengan dolly, dolly kamera di gerakan mendekat dan menjauh biasanya mendunakan rel atau alat tertentu, teknik terkesan gelisah dan lucu jika di gabungkan dengan zooming.

5.Crab Right & Left
Crab yaitu pergerakan kamera secara horizontal atau menyamping.
Crab Rigt adalah pergerakan kamera ke kiri.
Crab Left adalah pergerakan kamera ke kanan.
Perbedaan crab dan panning jika paning hanya kekiri dank e kanan tetap pada porosnya, sementara crab ini kamera yang bergerak secra horizontal, mengikuti subjek yang berjalan.

6.Pedestal Up & Down
Pedestal ini kamera yang bergerak dan berbeda dengan tilt yang hanya mengerakan kamera pada porosnya.
Pedestal Up adalah pergerakan kamera ke atas
Pedestal down adalah pergerakan kamera ke bawah.
Teknikini digunakan sutradara untuk membuat penonton penasaran dengan sosok actor yaitu shoting dari bagian kaki berlahan naik kebagian kepala ini akan memberikan pesan penasaran.

7.ArcKamera movemen yang mengintari subjek, biasanya kamera ini menggunakan rel atau mengintari manual dalam adegan tersesat atau kebingungan di suatu tempat.

Sumber :http://www.disanguan.com/2016/11/02/macam-macam-teknik-pengambilan-gambar-video/


Alat Bantu Fotografi

                                             ALAT BANTU FOTOGRAFI


ALAT BANTU PEMOTRETAN

a. Filter
Sesuai dengan namanya alat ini cara kerjanya sama seperti filter pada umumnya yaitu sebagai penyaring, jika di dalam rokok berguna menyaring asap tapi disini filter berfungsi menyaring cahaya yang masuk sehingga menimbulkan efek-efek yang kita inginkan. Penggunaannya dengan cara dipasang  diujung  lensa. Bentuk filter ada  dua  yaitu square (kotak) dan circle (bulat). Jika menggunakan filter square, kita harus menambahkan ring khusus  di depan lensa. Untuk penggunaan filter yang bentuknya bulat, kita harus memperhatikan diameter dari lensa kamera yang kita gunakan.  Macam – macam filter dan kegunaannya antara lain :
a.filter PL, memekatkan warna dan menghilangkan refleksi
b.filter UV, mengurangi sinar ultra violet.
c.filter ND (natural density), mengurangi contrast.
d.filter warna, memberi efek warna.
e.filter soft, melembutkan objek.
f.filter diffuser, hampir sama dengan filter soft, tapi lebih halus.
g.filter cross, memberi efek cross/silang pada sumber cahaya.
h.filter multi image, memberi efek multi image.
i.filter multi expose, digunakan dalam pemotretan multi expose.
j.filter gradasi, memberi efek gradasi warna

b. Tudung Lensa
Alat yang dipasang pada lensa ini berfungsi menghilangkan cahaya/sinar yang tidak diinginkan masuk kedalam lensa karena cahaya tersebut biasanya dapat menyebabkan flare pada hasil pemotretan. Flare dapat merusak hasil foto karena menurunkan kontras dan mengurangi saturasi warna.  Alat ini sangat berguna terutama pada pemotretan yang berhadapan langsung dengan arah datangnya cahaya.

c. Tripod
Tripod atau biasa disebut kaki tiga berfungsi sebagai peyangga kamera saat pemotretan agar kamera tidak mengalami guncangan (shaking). Biasanya digunakan pada pemotretan yang menggunakan kecepatan (speed ) rendah/lambat dan untuk menopang lensa-lensa panjang.

d. Monopod
Mempunyai fungsi yang sama dengan tripod tetapi hanya bentuknya yang berbeda yaitu hanya satu kaki sehingga lebih praktis.
e. Kabel Release
Bentuknya hampir seperti injeksi yang lentur berfungsi untuk menghindari goncangan saat shutter ditekan karena saat memakai alat ini kita tidak perlu menekan shutter secara langsung. Penggunaannya dipasang pada soket kabel release yang biasanya terdapat pada tombol shutter. Biasanya ini soulmate-nya tripod dan biar penggunaan tripod lebih afdol.

f. Background
Kain atau latar belakang yang digunakan untuk pemotretan studio dengan berbagai macam gambar, pola dan warna.

g. Stand Background
Alat penyangga background, dan dalam penggunaannya paling tidak ada 2 stand. Alat ini bisa dinaik – turunkan sesuai kebutuhan.


ALAT BANTU PENCAHAYAAN

a.Flash atau Blitz
Diperlukan dalam pemotretan apabila cahaya yang ada dirasa kurang/ minim, misalnya pemotretan pada malam hari. Meskipun demikian, tidak diharamkan bagi kita untuk menggunakan flash pada siang hari, saat cahaya yang ada sudah cukup banyak/terang. Penggunaan flash pada siang hari biasanya untuk fill in. Sumber tenaga flash berasal dari baterai. Flash dapat digunakan sesuai dengan kekuatannya, jaraknya, hingga fasilitas lebih yang dimilikinya.

b.Slave Unit
Dapat disebut sebagai alat sensor. Cara kerja slave unit adalah menangkap cahaya dari main light (sumber cahaya utama) untuk kemudian menyalakan sumber cahaya lainnya yang terhubung dengan slave unit tersebut.

c.Sincro Cable/Kabel Sinkro
Kabel yang digunakan untuk membantu menyalakan flash tambahan atau sumber cahaya pemotretan yang lain. Cara penggunaan kabel sinkro yaitu dengan cara menghubungkannya dari sumber cahaya tambahan ke body kamera.
d.Holder atau Braket
Alat ini digunakan jika kita merasa perlu menggunakan flash tambahan. Holder berfungsi sebagai penyangga flash tambahan dan slave unit. Penggunaannya dengan cara dipasang pada body kamera.

e.Strobo atau Strobe
Alat ini hampir mirip dengan flash, tapi bentuknya lebih besar dan cahaya yang dihasilkan juga lebih besar. Strobo dapat menyimpan cahaya dengan sumber tenaga yang berasal dari tenaga listrik AC atau baterai kering. Strobo memiliki sensor yang dapat menangkap main light sumber cahaya utama. Jadi strobo akan menyala secara otomatis ketika ada main light yang dinyalakan.  Jika tidak menggunakan main light, strobo dapat diaktifkan dengan cara menghubungkan kabel sinkro langsung dari strobo ke kamera. Ukuran kekuatan cahaya yang dihasilkan strobo dapat kita atur sesuai selera kita. Alat ini lebih banyak digunakan untuk pemotretan studio/indoor.

f.AC Slave
Hampir mirip dengan strobo cara kerja dan penggunaannya. Tetapi sifat arah cahaya dari AC Slave lebih melebar atau menyebar ke segala arah.

g.Snoot
Alat ini berfungsi mengarahkan cahaya pada satu titik agar tidak menyebar/terpusat. Bentuk snoot menyerupai corong dan juga lebih banyak digunakan untuk pemotretan studio/indoor. Biasanya juga digunakan untuk pemotretan double dan multi expose.

h.Payung Reflektor
Sifat cahaya yang dihasilkan lebih luas sehingga bayangan dan cahaya keseluruhan menjadi lebih lembut. Payung reflektor memiliki bermacam-macam warna. Warna standardnya putih, tapi ada juga yang berwarna perak (menghasilkan cahaya yang lebih kuat) dan emas(menghasilkan cahaya yang hangat) . Sumber cahaya alat ini berasal dari strobo.

i.Reflektor
Digunakan untuk memberi cahaya tambahan yang merupakan pantulan cahaya dari main light. Biasanya berbentuk bundar dan kotak. Pada umumnya memiliki 3 warna yaitu putih, perak dan emas. Kita juga dapat menggunakan sehelai  kain putih, styrofoam dan kertas mengkilap sebagai reflektor yang berguna pada saat pemotretan.

j.Soft Box
Sebuah kotak yang terbuat dari kain dengan kedudukan atau rangka yang berbentuk seperti pyramid. Cahaya yang dihasilkan softbox lebih lembut daripada cahaya yang dihasilkan payung reflektor maupun reflektor. Softbox memiliki bermacam-macam ukuran(semakin besar ukurannya semakin lembut cahaya yang dihasilkan). Sumber cahaya Soft Box juga berasal dari strobo.

k.Barndoors
Berbentuk segi empat dan bewarna gelap. Biasanya dipasang pada soft box. Kegunaan dari barndoors adalah untuk mengarahkan cahaya yang keluar dari sumber cahaya.

l.Honeycomb/Sarang Tawon
Alat ini sejenis dengan filter dan bentuknya bundar seperti sarang tawon, tapi dipasang pada lampu/sumber cahaya. Berfungsi untuk menghaluskan cahaya yang jatuh ke arah obyek..

m.Light Stand
Alat yang digunakan untuk menyangga lampu studio.

n.Flash Meter
Berfungsi sebagai pengukur kekuatan sumber cahaya dalam pemotretan indoor atau outdoor. Alat ini lebih akurat daripada light meter yang ada pada kamera.

o.Infrared Sender
Mengirimkan sinar infrared untuk memancing nyala flash atau lampu studio

p.Trigger
Menyalakan flash/lampu studio dengan gelombang elektro


Sumber: https://fotografiyuda.wordpress.com/seputar-fotografi/alat-bantu-fotografi

Minggu, 02 April 2017

Ragam Bahasa Indonesia

 RAGAM BAHASA INDONESIA

Muhammad Adam Setyadi
Universitas Gunadarma
Dosen : Ahmad Nasher


Ragam Bahasa adalah variasi bahasa. Bachman (1990,dalam Angriawan, 2011:1) menyatakan bahwa ragam bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta menurut medium pembicara. Dengan kata lain Ragam Bahasa adalah variasi bahasa yang berbeda-beda yang disebabkan karena berbagai faktor yang terdapat dalam  masyarakat, seperti usia, pendidikan, agama, bidang kegiatan dan profesi, latar belakang budaya daerah, dan sebagainya.

Beberapa Faktor yang menyebabkan timbulnya keragaman bahasa, diantaranya :



Faktor Budaya atau Letak Geografis.
Faktor Ilmu Pengetahuan.
Faktor Sejarah.
Macam-Macam Ragam Bahasa.

Ragam bahasa memiliki jumlah yang sangat banyak karena penggunaan bahasa sebagai alat komunikasi tidak terlepas dari latar budaya penuturnya yang berbeda-beda. Selain itu, pemakaian bahasa juga bergantung pada pokok persoalan yang dibicarakan serta keperluan pemakainya.

Ragam Bahasa dibagi berdasarkan beberapa cara :

1. Berdasarkan Cara Berkomunikasi

Ragam Lisan
Ragam bahasa baku lisan didukung oleh situasi pemakaian sehingga kemungkinan besar terjadi pelesapan kalimat. Namun, hal itu tidak mengurangi ciri kebakuannya. Walaupun demikian, ketepatan dalam pilihan kata dan bentuk kata serta kelengkapan unsur-unsur  di dalam kelengkapan unsur-unsur di dalam struktur kalimat tidak menjadi ciri kebakuan dalam ragam baku lisan karena situasi dan kondisi pembicaraan menjadi pendukung di dalam memahami makna gagasan yang disampaikan secara lisan.


Ciri-ciri ragam lisan :
Memerlukan orang kedua/teman bicara.
Tergantung situasi, kondisi, ruang & waktu.
Tidak harus memperhatikan unsur gramatikal, hanya perlu intonasi serta bahasa tubuh.
Berlangsung cepat.
Sering dapat berlangsung tanpa alat bantu.
Kesalahan dapat langsung dikoreksi.
Dapat dibantu dengan gerak tubuh dan mimik wajah serta intonasi.
Di pengaruhi oleh tinggi rendahnya suara.


Contoh :
Penggunaan Bentuk Kata
    –  Nia sedang baca surat kabar.
    –  Ari mau nulis surat.
    –  Tapi kau tak boleh nolak lamaran itu.
    –  Mereka tinggal di Medan.
    –  Jalan layang itu untuk mengatasi kamacetan lalu lintas

Penggunaan Kosa Kata
    –  Alzeta bilang kalau kita harus belajar.
    –  Kita harus bikin karya tulis.
    –  Saya sudah kasih tahu mereka tentang hal itu.

Penggunaan Struktur Kalimat
    –  Rencana ini sudah saya sampaikan kepada Direktur.
    –  Dalam asah terampil ini dihadiri juga oleh Gubernur Jakarta





Ragam Tulis 
Ragam bahasa tulis adalah bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan media tulis seperti kertas dengan huruf sebagai unsur dasarnya. Dalam ragam tulis, kita berurusan dengan tata cara penulisan dan kosakata. Dengan kata lain dalam ragam bahasa tulis, kita dituntut adanya kelengkapan unsur tata bahasa seperti bentuk kata atau pun susunan kalimat, ketepatan pilihan kata, kebenaran penggunaan ejaan, dan penggunaan tanda baca daam mengungkapkan ide. Ragam tulis yang standar kita temui dalam buku-buku pelajaran, teks, majalah, surat kabar, poster, iklan. Kita juga dapat menemukan ragam tulis non standar dalam majalah remaja, iklan, atau poster.

Ciri-ciri ragam tulis:
Tidak memerlukan orang kedua/teman bicara.
Bersifat objektif.
Tidak tergantung kondisi, situasi & ruang serta waktu.
Mengemban konsep makna yang jelas.
Harus memperhatikan unsur gramatikal.
Berlangsung lambat.
Jelas struktur bahasanya, susunan kalimatnya juga jeas, dan runtut.
Selalu memakai alat bantu.
Kesalahan tidak dapat langsung dikoreksi.
Tidak dapat dibantu dengan gerak tubuh dan mimik muka, hanya terbantu dengan tanda baca.
Contoh :
    - Saya sudah membaca buku itu.
    - Mereka bertempat tinggal di Menteng.
    - Kita harus membuat karya tulis.

2. Berdasarkan Cara Pandang Penutur.

Ragam Dialek.
Ragam daerah/dialek adalah variasi bahasa yang dipakai oleh kelompok banhasawan ditempat tertentu(lihat Kridalaksana, 1993:42). Dalam istilah lama disebut dengan logat.logat yang paling menonjol yang mudah diamati ialah lafal (lihat Sugono, 1999:11). Logat bahasa Indonesia orang Jawa tampak dalam pelafalan /b/pada posisi awal nama-nama kota, seperti mBandung, mBayuwangi,atau realisai pelafalan kata seperti pendidi’an, tabra’an, kenai’an, gera’an. Logat daerah paling kentara karena tata bunyinya. Logat indonesia yang dilafalkan oleh seorang Tapanuli dapat dikenali, misalnya, karena tekanan kata yang amat jelas; logat indonesia orang bali dan jawa, karena pelaksanaan bunyi /t/ dan /d/-nya. Ciri-ciri khas yang meliputi tekanan, turun naiknya nada, dan panjang pendeknya bunyi bahasa membangun aksen yang berbeda-beda.
Ragam Terpelajar.
Tingkat pendidikan penutur bahasa indonesia juga mewarnai penggunaan bahasa indonesia. Bahasa indonesia yang digunakan oleh kelompok penutur berpendidikan tampak jelas perbedeaannya dengan yang digunakan oleh kelompok penutur yang tidak berpendidikan. Terutama dalam pelafalan kata yang berasal dari bahasa asing, seperti contoh dalam tabel berikut.
Tidak Terpelajar
Terpelajar
Pidio
Video
Pilem
Film
Komplek
Kompleks
Pajar
Fajar
Pitamin
Vitamin
Ragam Resmi.
Ragam resmi adalah bahasa yang digunakan dalam situasi resmi, seperti pertemuan-pertemuan, peraturan-peraturan, dan undangan-undangan.

Ciri-ciri ragam bahasa resmi :
    - Menggunakan unsur gramatikal secara eksplisit dan konsisten.
    - Menggunakan imbuhan secara lengkap.
    - Menggunakan kata ganti resmi.
    - Menggunakan kata baku.
    - Menggunakan EYD.
    - Menghindari unsur kedaerahan.

Ragam Tak Resmi.
Ragam takresmi adalah bahasa yang digunakan dalam situasi takresmi, seperti dalam pergaulan, dan percakapan pribadi, seperti dalam pergaulan, dan percakapan pribadi (lihat Keraf,1991:6). Ciri- ciri ragam bahasa tidak resmi kebalikan dari ragam bahasa resmi. Ragambahasa bahasa tidak resmi ini digunakan ketika kita berada dalam situasi yang tidak normal.

Ragam bahasa resmi atau takresmi ditentukan oleh tingkat keformalan bahasa yang digunakan. Semakin tinggi tingkat kebakuan suatu bahasa, derarti semakin resmi bahas yang digunakan. Sebaliknya semakin rendah pula tingkat keformalannya, makin rendah pula tingkat kebakuan bahasa yang digunakan- (lihat Sugono, 1998:12-13). 
Contoh: Bahasa yang digunakan oleh bawahan kepada atasan adalah bahas resmi sedangkan bahasa yang digunakan oleh anak muda adalah ragam bahasa santai/takresmi.

Tabel perbedaan contoh ragam:

RAGAM
CONTOH
Lisan
Saya sudah baca buku itu
Tulis
Saya sudah membaca buku itu
Dialek
Gue udah baca itu buku
Terpelajar
Saya sudah membaca buku itu
Resmi
Saya sudah membaca buku itu
Takresmi
Sudah saya baca buku itu

3. Berdasarkan Topik Pembicaraan.
Ragam Politik.
Bahasa politik berisi kebijakan yang dibuat oleh penguasa dalam rangka menata dan mengatur kehidupan masyarakat. dengan sendirinya penguasa merupakan salah satu sumber penutur bahasa yang mempunyai pengaruh yang besar dalam pengembangan bahasa di masyarakat.
Ragam Hukum.
Salah satu ciri khas dari bahasa hukum adalah penggunaan kalimat yang panjang dengan pola kalimat luas. Diakui bahwa bahasa hukum Indonesia tidak terlalu memperhatikan sifat dan ciri khas bahasa Indonesia dalam strukturnya. Hal ini disebabkan karena hukum Indonesia pada umumnya didasarkan pada hukum yang ditulis pada zaman penjajahan Belanda dan ditulis dalam bahasa Belanda. Namun, terkadang sangat sulit menggunakan kalimat yang pendek dalam bahasa hukum karena dalam bahasa hukum kejelasan norma-norma dan aturan terkadang membutuhkan penjelasan yang lebar, jelas kriterianya, keadaan, serta situasi yang dimaksud.
Ragam Sosial dan Ragam Fungsional.
Ragam sosial dapat didefinisikan sebagai ragam bahasa yang sebagian norma dan kaidahnya didasarkan atas kesepakantan bersama dalam lingkungan sosial yang lebih kecil dalam masyarakat. Ragam sosial membedakan penggunaan bahasa berdasarkan hubungan orang misalnya berbahasa dengan keluarga, teman akrab dan atau sebaya, serta tingkat status sosial orang yang menjadi lawan bicara. Ragam sosial ini juga berlaku pada ragam tulis maupun ragam lisan. Sebagai contoh orang takkan sama dalam menyebut lawan bicara jika berbicara dengan teman dan orang yang punya kedudukan sosial yang lebih tinggi. Pembicara dapat menyebut “kamu” pada lawan bicara yang merupakan teman tetapi takkan melakukan itu jika berbicara dengan orang dengan status sosial yang lebih tinggi atau kepada orang tua.

Ragam fungsioanal, sering juga disebut ragam professional merupakan ragam bahasa yang diakitkan dengan profesi, lembaga, lingkungan kerja, atau kegiatan tertentu lainnya. Sebagai contoh yaitu adanya ragam keagamaan, ragam kedokteran, ragam teknologi dll. Kesemuaan ragam ini memiliki fungsi pada dunia mereka sendiri.
Ragam jurnalistik.
Bahasa Jurnalistik adalah ragam bahasa yang dipergunakan oleh dunia persurat-kabaran (dunia pers = media massa cetak). Dalam perkembangan lebih lanjut, bahasa jurnalistik adalah bahasa yang dipergunakan oleh seluruh media massa. Termasuk media massa audio (radio), audio visual (televisi) dan multimedia (internet). Hingga bahasa jurnalistik adalah salah satu ragam bahasa, yang dibentuk karena spesifikasi materi yang disampaikannya. Ragam khusus jurnalistik termasuk dalam ragam bahasa ringkas.
Ragam sastra.
Ragam bahasa sastra memiliki sifat atau karakter subjektif, lentur, konotatif, kreatif dan inovatif. Dalam bahasa yang beragam khusus terdapat kata-kata, cara-cara penuturan, dan ungkapan-ungkapan yang khusus, yang kurang lazim atau tak dikenal dalam bahasa umum. Bahasa sastra ialah bahasa yang dipakai untuk menyampaikan emosi (perasaan) dan pikiran, fantasi dan lukisan angan-angan, penghayatan batin dan lahir, peristiwa dan khayalan, dengan bentuk istimewa. Istimewa karena kekuatan efeknya pada pendengar/pembaca dan istimewa cara penuturannya. Bahasa dalam ragam sastra ini digunakan sebagai bahan kesenian di samping alat komunikasi. Untuk memperbesar efek penuturan dikerahkan segala kemampuan yang ada pada bahasa. Arti, bunyi, asosiasi, irama, tekanan, suara, panjang pendek suara, persesuaian bunyi kata, sajak, asonansi, posisi kata, ulangan kata/kalimat dimana perlu dikerahkan untuk mempertinggi efek. Misalnya, bahasa dalam sajak jelas bedanya dengan bahasa dalam karangan umum.

Contoh ragam bahasa berdasarkan topik pembicaraan:

1. Dia dihukum karena melakukan tindak pidana.(ragam hukum)
2. Setiap pembelian di atas nilai tertentu akan diberikan diskon.(ragam bisnis)
3. Cerita itu menggunakan unsur flashback. (ragam sastra)
4. Anak itu menderita penyakit kuorsior. (ragam kedokteran)
5. Penderita autis perlu mendapatkan bimbingan yang intensif. (ragam psikologi)

Kesimpulan:
Ragam Bahasa Adalah Variasi Bahasa Menurut Pemakaian, Yang Berbeda-Beda Menurut Topik Yang Dibicarakan, Menurut Hubungan Pembicara, Kawan Bicara, Orang Yang Dibicarakan, Serta Menurutmedium Pembicara. Dalam Konteks Ini Ragam Bahasa Meliputi Bahasa Lisan Dan Bahasa Baku Tulis.Pada Ragam Bahasa Baku Tulis Diharapkan Para Penulis Mampu Menggunakan Bahasa Indonesia Yang Baik Dan Benar Serta Menggunakan Ejaan Bahasa Yang Telah Disempurnakan (EYD),sedangkan ragam bahasa lisan diharapkan para warga Indonesia mampu mengucapkan dan memakai bahasa dengan baik serta bertutur kata sopan sebagai pedoman yang ada.